Mungkin semua orang tau cerita ini :
Suatu kali seorang pengusaha sedang berlibur ke sebuah kampung nelayan, ia merasa terganggu saat melihat seorang nelayan sedang bersantai dibawah pohon.
"Pak, mengapa bapak tidak melaut ?", tanya pengusaha itu seraya menghampiri.
"Saya sudah melaut semalam dan saya perlu istirahat", sambut sang nelayan dengan senyuman.
"Kalau bapak malaut lagi, bapak akan memperoleh lebih banyak ikan", saran sang pengusaha sambil menunjuk ke arah laut.
"Lalu ?", balas sang nelayan dengan tenang.
"Bapak bisa mengumpulkan uang lebih banyak untuk membeli sebuah perahu", sahut sang pengusaha.
"Lalu ?", balas sang nelayan kembali.
"Dengan perahu itu, bapak tidak perlu lagi menyetorkan sebagian keuntungan bapak kepada pemilik perahu", tukas sang pengusaha.
"Lalu ?", balas sang nelayan sembari membetulkan topi jeraminya.
"Bapak bisa mengumpulkan lebih banyak lagi uang untuk membeli perahu kedua", ucap sang pengusaha dengan bersemangat.
"Lalu ?", balas sang nelayan dengan senyuman.
"Dengan dua perahu, bapak bisa menghasilkan lebih banyak uang dan membeli perahu ketiga, perahu keempat, kelima dan seterusnya", dengan bersemangat sang pengusaha menjelaskan.
"Lalu ?", balas sang nelayan dengan senyum yang bertambah lebar.
"Jika perahu bapak sudah banyak, bapak bisa menyewakannya pada nelayan lain sehingga bapak tidak perlu lagi melaut", sang pengusaha membalas dengan sedikit tertawa.
"Lalu ?", sang nelayan kembali menyahut sembari membenahi posisi santainya.
"Bapak bisa hidup tenang dan bersantai", ujar sang pengusaha dengan keyakina bahwa idenya akan diterima oleh sang nelayan.
Dengan santai, nelayan tersebut tersenyum dan berkata, "Menurut bapak, apa yang sedang saya lakukan sekarang?"
Gua menganggap orang terlalu membesar2 kan cerita ini. Soalnya, ini sebenarnya cerita untuk orang yang malas. Ok, they have the same
goal, bersantai, tapi kualitas santai mereka jauh berbeda, "To know the pleasure we must know the pain". Nelayan, tidak akan menghargai
waktu santainya seperti sang pengusaha hargai.
Just like I do, I know how good Lembang is after I live in Jakarta. Before that, I felt Lembang was so boring. I just realized, Lembang and Bandung are so great, no wonder
Jakartanians(people live in Jakarta) go to Bandung every weekend and make traffic everywhere.
Another thing, sang pengusaha dapat berbagi kesantaian-nya dengan keluarganya. Sedang kan sang nelayan, meskipun dia santai, bagaimana keluarganya,
mereka juga dapat menikmati kemalasan seperti si nelayan itu, mereka juga memiliki kebutuhan lain. Mereka pasti punya pikiran, "Our family can do more than others".
Sebenarnya yang kedua ini tidak terlalu penting selama seluruh keluarga bisa saling menerima gaya hidup sang ayah (sang pengusaha atau si nelayan).
Apa mereka bisa? Sometimes they need cellphone (supir angkot aja punya HP), baju baru waktu lebaran, sekolah di tempat bagus (no doubt this one costs a lot), wisata bersama keluarga,
help families and relations, hobbies, buy medicines, and self actualization. "Money is not everything, but everything needs money". If you don't want this, than have no family,
don't merry anyone, and live just like the fisherman does. Jangan menyebarkan bibit kemiskinan.
Thursday, 19 February 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment